Persaingan
antara processor AMD dan Intel dalam merebut pasar PC dan laptop hingga
saat ini masih cukup sengit. Untuk pasar PC dan laptop gaming,
sementara masih didominasi oleh Intel dengan processor Core-nya.
Sebenarnya mana yang lebih baik performancenya, AMD atau Intel?
Sejak Intel mengeluarkan processor Core i3, i5 dan i7, perusahaan pembuatan processor terbesar di dunia ini langsung mendominasi jauh atas AMD. Langkah AMD dengan menurunkan harga memang sedikit banyak bisa mengangkat penjualannya, tapi performance processornya tidak.
Konsep perancangan processor AMD dinilai banyak pihak salah, karena lebih fokus memacu kecepatan processornya. Selain itu konsumsi daya listrik processor AMD cukup besar (di atas 100 watt), dibanding processor Intel (di bawah 100 watt). Akibatnya processor AMD jauh lebih panas dibanding Intel.
Processor yang panas otomatis kecepatannya akan turun sendiri. Hal ini dikarenakan bila panas berlebih dipertahankan, maka processor akan rusak atau terbakar. Penurunan kecepatan processor bisa hingga 20% - 30% bila panas sudah mencapai di atas 60% dari angka maksimal yang diperkenankan.
Pada beberapa tipe mainboard, bila panas processor mencapai 80%, maka mainboard otomatis akan mematikan (shutdown) 'dirinya' secara otomatis untuk 'cooling down' sementara.
Ketika kita bermain game, tentunya processor akan bekerja maksimal. Apalagi game FPS seperti Crysis, atau game dengan AI 'rumit' seperti Starcraft II. Processor pastinya akan bekerja dengan 'kekuatan terbaiknya' untuk bisa menjalankan game tersebut dengan mulus. Otomatis panas berlebih akan 'menghinggapi' processor, walau sudah dengan bantuan kipas.
Alhasil bila processor AMD Phenom II X6 yang memiliki 6 core diadu dengan Intel i3 dengan 4 core, Intel i3 masih lebih cepat sedikit untuk masalah gaming. Hal ini sudah dibuktikan oleh TomsHardware.
Sejak Intel mengeluarkan processor Core i3, i5 dan i7, perusahaan pembuatan processor terbesar di dunia ini langsung mendominasi jauh atas AMD. Langkah AMD dengan menurunkan harga memang sedikit banyak bisa mengangkat penjualannya, tapi performance processornya tidak.
Konsep perancangan processor AMD dinilai banyak pihak salah, karena lebih fokus memacu kecepatan processornya. Selain itu konsumsi daya listrik processor AMD cukup besar (di atas 100 watt), dibanding processor Intel (di bawah 100 watt). Akibatnya processor AMD jauh lebih panas dibanding Intel.
Processor yang panas otomatis kecepatannya akan turun sendiri. Hal ini dikarenakan bila panas berlebih dipertahankan, maka processor akan rusak atau terbakar. Penurunan kecepatan processor bisa hingga 20% - 30% bila panas sudah mencapai di atas 60% dari angka maksimal yang diperkenankan.
Pada beberapa tipe mainboard, bila panas processor mencapai 80%, maka mainboard otomatis akan mematikan (shutdown) 'dirinya' secara otomatis untuk 'cooling down' sementara.
Ketika kita bermain game, tentunya processor akan bekerja maksimal. Apalagi game FPS seperti Crysis, atau game dengan AI 'rumit' seperti Starcraft II. Processor pastinya akan bekerja dengan 'kekuatan terbaiknya' untuk bisa menjalankan game tersebut dengan mulus. Otomatis panas berlebih akan 'menghinggapi' processor, walau sudah dengan bantuan kipas.
Alhasil bila processor AMD Phenom II X6 yang memiliki 6 core diadu dengan Intel i3 dengan 4 core, Intel i3 masih lebih cepat sedikit untuk masalah gaming. Hal ini sudah dibuktikan oleh TomsHardware.
Tips:Kalau Gk Ada Uang Beli AMD Aja Karna Jika Grafiknya di turunkan akan sama lancarnya dengan Intel Dan Jika Mau Yang Bagus Beli Aja Intel